Minggu, 01 September 2013

KOTAK HITAM BERNAMA "TELEVISI"

Gambar ilustrasi diambil dari sini


( Depok, RUMAH PELANGI  DAYCAR)


Sebagai orang tua yang baik, kita sangat menginginkan anak tumbuh berkembang dengan sempurna, memiliki banyak kemampuan dan menjadi seorang anak yang sholeh/sholehah. Cita – cita mulia tersebut tidak serta merta di dapatkan tanpa upaya dari orang tua untuk menstimulus putra putri tercinta semenjak dini.


Di sisi lain, perkembangan informasi yang sangat luas dan dan nyaris tidak tersaring dapat menjadi kendala tersendiri dalam mensukseskan harapan yang sudah kita miliki. Salah satu kendala yang terjadi dalam kehidupan kita sehari – hari adalah “kotak hitam” yang bernama TELEVISI.

Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktunya lebih dari 70% untuk kegiatan yang tidak melibatkan gerakan fisik mereka ternyata sangat mempengaruhi keterampilan motorik mereka. Ini banyak ditemukan pada anak laki-laki ketimbang anak perempuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan yang menghabiskan 77,3% atau lebih banyak waktu untuk kegiatan yang tidak melibatkan fisik memiliki keterampilan motorik 4-5 kali lebih buruk dibandingkan anak perempuan aktif.

Untuk anak laki-laki, menghabiskan lebih dari 76% waktu mereka duduk berarti bahwa mereka 5-9 kali lebih mungkin untuk mengalami gangguan keterampilan motorik. (Studi ini dipublikasikan di American Journal of Human Biology)
Hal ini adalah pertanda bahwa semakin sering menonton televisi akan semakin melemahkan fungsi inisiatif anak akibat kurangnya gerakan fisikd. Karena sejatinya seorang anak adalah melakukan banyak gerakan dan permainan sehingga dapat menstimulus serta mengoptimasi aktifitas mereka agar menjadi seorang anak yang sehat, dapat bersosialisasi dan memiliki inisiatif yang tinggi.

Di sisi lain.... Satu contoh situasi yang mungkin pernah di alami dalam keseharian kurang lebih seperti ini,

Seorang bunda yang sibuk dengan pekerjaan rumah, sementara buah hati yang bosan bermain sendiri mulai merengek untuk sekedar meminta sedikit perhatian kepada sang bunda. Maklumlah di rumah kesibukan mengurus pekerjaan rumah saja sudah sangat menguras tenaga dan mempersempit peluang dalam melakukan hubungan kasih sayang. Ditambah lagi mencari seorang asisten untuk mengurus kegiatan rumah tangga menjadi suatu komoditi langka seiring perjalanan waktu.  Agar tidak “mengganggu” kesibukan bunda, akhirnya si anak di temani oleh televisi.Alhasil cara jitu tersebut berjalan dengan sempurna. Si buah hati merasa sumringah karena suguhan yang di berikan bunda sangat menarik perhatian mereka. Akhirnya cara itu jadi andalan bunda setiap harinya.

Suatu ketika, Sang bunda menemukan buku yang sudah lama dibelinya namun tidak sempat dibacakan kepada putera-puteri tercinta, mungkin karena kesibukan yang begitu hebat sehingga sang bunda menunggu datangnya waktu senggang hingga akhirnya ia lupa untuk berbagi cerita kepada putera puteri kesayangannya itu. Buku yang penuh debu itu di temukan, kemudian di bersihkan kembali olehnya. Tampak lembar demi lembar buku itu masih sangat mulus tak ada lekukan bekas ceplakan tangan maupun goresan jejak buku yang pernah terbuka, pertanda buku tersebut sama sekali belum terjamah. senyum di wajahnya menandakan bunda sangat antusias untuk segera menyampaikan cerita menarik itu kepada putera dan puterinya. Ini bukan buku biasa.. Ini waktunya aku mengajarkan Tauhid dan sejarah.

"Nak... bunda mau cerita tentang kepahlawanan di era kebangkitan agama kita, sebelumnya bunda mau tanya niiih....apakah kamu tahu siapa Ali bin Abu Thalib?"... dengan semangat, sang buah hati menggeleng teriring senyum terkulum di wajahnya.

"mmmh.... Kaloo Umar bin Khatab?" kembali si anak menggeleng makin semangat.

"mmmh... kalooo Muhammad SAW? Pasti tau kan?" kali ini Bunda yang gantian tesenyum simpul dengan harapan buah hatinya mengangguk dan berteriak...."TAUUU". Karena di televisi pun sering kali mereka menemukan nama yang demikian fenomenal di setiap kali bunda membuka acara kultum ataupun siraman rohani bersama buah hati.

tapi malahan sang anak makin kencang menggeleng dengan tawa kecil di sela pertanyaan. Sepertinya kali ini Bunda yang tertegun dan berpikir. 

"Ternyata anakku lebih mengenal sosok Sponges Bob dan patrick, dua sahabat kental dalam acara televisi, dibanding persahabatan Muhammad SAW dan Umar bin Khatab. Ternyata Anakku lebih Hafal Syair lagu CO**Y Junior daripada alunan Surat Alfatihah. Ternyata buah hatiku lebih mengenal bahasa alay... daripada bacaan IQRO."  

Lalu bagaimana cara kita bisa mengendalikan kotak hitam itu dan mulai membekali buah hati kita dengan ilmu yang bermanfaat?

Sepertinya ini yang harus kita jadikan PR sejak dini, karena kelak merekapun akan mengalami masa regenerasi. Jangan sampai kita menjadi "penyebab" terputusnya pengetahuan putera puteri terbaik bangsa gegara kita menjadi golongan yang hanya menganggap televisi sudah cukup memberikan informasi, hiburan, kepuasan, dan penghilang rasa jenuh yang dibutuhkan oleh buah hati kita dari film kartun, sinetron picisan bertema religi, infotainment, dan lain sebagainya . Karena sebaik - baiknya pendidikan dan pengetahuan yang bermanfaat adalah pengetahuan yang ia dapatkan dari rumah dengan penyampaian yang baik.

Sudah waktunya kita merubah kebiasaan bangsa dari mendisiplinkan diri sendiri dengan melakukan hal kecil yang bermanfaat. Agar Indonesia menjadi lebih baik dan segalanya di mulai dari kita sebagai titik nol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar