Selasa, 24 September 2013

Anak Analitik dan Anak Holistik


Anak Anda ada yang mudah sekali bergaul dengan teman dan tak ada masalah berarti ketika berada di tempat yang baru? Diajak ke sana enjoy saja, diajak ke sini juga menikmati dengan happy. Wah, sepertinya enak ya punya anak seperti ini? Paling tidak PR kita sebagai orang tua berkurang 1, tak perlu lagi nge-push kecerdasan interpersonal anak.
Atau, anak Anda ada yang kebalikannya? Diajak ke tempat dan suasana yang baru, loadingnya lama. Nempel terus sama Anda, malu-malu, dan terkadang sambil gigit jari agar dia merasa nyaman. Dilihat-lihat dulu tempatnya kini berada, jika nyaman barulah dia memberikan respon yang positif. Harus ada energi lebih memang yang dibutuhkan orang tua untuk mempercepat daya adaptasi anak yang begini.
Apapu itu, pertama, marilah bersyukur. Bagaimanapun itu, anak tetap merupakan harta yang sangat berharga. Nah, karena anak-anak berbeda satu dengan yang lainnya, maka tentu saja penanganannya pun tidak sama.
Bagaimana dengan anak Anda seperti deskripsi yang pertama? Anak yang seperti ini memiliki tipe yang analitik. Ketika orang tua akan mencarikan sekolah untuk anak ini, maka disarankan ayahnya lah yang mensurvey sekolah yang pas untuknya. Mengapa ayah? Karena tipikal rata-rata laki-laki yang sudah menjadi ayah biasanya cenderung tak terlalu peka terhadap perasaan. Kenyamanan bisa didapatkan di mana saja. Bagi ayah, sekolah itu dimana pun berada ya untuk belajar. Ayah tak terlalu ambil pusing soal perasaan nyaman. Everything is ok!
Namun, ketika berkomunikasi dengan anak tipe ini juga harus tepat. Meskipun dia mudah adaptasi di kondisi dan situasi lingkungan yang baru, namun kalau ngomong dengan anak ini perlu sedikit dikontrol. Misalkan anak pulang sekolah. Sesampainya di rumah, wajar apabila orang tua bertanya,”Hari ini belajar apa? Mewarnainya bisa tidak?” Namun, untuk anak analitik, sebisa mungkin ini dihindari. Anak analitik tak suka diintrograsi. Jika ingin mendengar kabar sekolahnya hari itu, orang tua harus sabar sampai anak mau menceritakannya sendiri. Anak analitik juga cenderung cepat emosi manakala berbagai pertanyaan ditujukan kepadanya tentang aktivitasnya seharian.
Berbeda dengan anak analitik, anak holistik lain lagi. Jika anak Anda bertipikal holistik, yang perlu Anda perhatikan adalah bahwa anak ini akan keluar segala potensi dirinya jika sudah merasa nyaman dan aman. Dia termasuk anak yang pilih-pilih tempat dan keadaan, tak langsung cepat berbaur. Bahkan kenyamanannya tidak bisa dipaksakan. Jika tak kerasan dia malah merasa terkungkung dan cenderung tidak percaya diri. Oleh karena itu, penting sekali jika ingin memilihkan sekolah bagi anak holistik, maka si ibu lah yang melalukan survey. Ibu sangat mementingkan perasaan ketika memilih. Logika perasaannya sangat mendominasi dalam mengambil keputusan. Rasa aman dan nyaman akan didapatkan manakala di dalam hatinya memang sudah berkata “OK!” Ini pas sekali dengan pengalaman saya. Ketika itu saya melakukan survey play group yang sesuai untuk anak saya yang tipenya memang holistik. Saya survey ada 4 sekolah yang cukup dekat dengan rumah. Dari ke-4 sekolah saya sreg dengan sekolah pertama yang saya survey. Akhirnya anak saya sekolah di situ. Hanya butuh 2 hari anak saya menyesuaikan diri. Sekarang dia begitu menikmati sekolahnya dan nyaman di sana. Ada banyak cerita yang selalu dilontarkannya selama berada di sekolah.
Anak holistik suka sekali ditanya. “Tadi bermain apa, Mas?” Begitulah pertanyaan yang disukainya seusai sekolah. Sang anak pun bercerita banyak dengan perasaan bahagia.

Ehm, ternyata ilmu mendidik dan pola asuh anak, bahkan sampai cara memilihkan sekolah pun terus berkembang ya. Takkan pernah berhenti menjadi orang tua yang senantiasa belajar agar tepat memberikan yang terbaik buat si buah hati tercinta. Semoga bermanfaat.