Rabu, 08 Oktober 2014

Bahasa Ibunya Dulu, Ya!


                Seorang anak di daycare ada yang cukup banyak perbendaharaan kata dalam bahasa Inggris. Ketika ditanya,”Ini warnanya apa?” dia menjawab,”Blue!” Ketika membilang benda, anak ini pun tidak mau menggunakan bahasa Indonesia. One, two, three, dst. Itu sekarang, ketika si anak mengenyam pendidikan di Play Group nya. Dulu, tidak begitu. Fasih sekali menggunakan bahasa Indonesianya.

                Apakah salah anak sejak dini belajar bahasa asing selain bahasa ibunya? Ya, tidak salah. Boleh-boleh saja. Balita memang dalam masa usia keemasan. Apa saja yang dilihat dan didengarnya akan sangat mudah terekam. Mau bahasa apa saja pasti anak mudah menangkapnya.

                Namun, seyogyanya bisa seimbang dalam penerapannya sehari-hari. Ketika anak tinggal di Indonesia, bahasa sehari-harinya adalah bahasa Indonesia. Dalam pergaulan, di setiap kesempatan bertemu orang sebagian besar ya orang Indonesia. Apa yang dirasakan anak manakala ketika berinteraksi dengan teman-temannya atau tetangganya, mereka menggunakan bahasa Indonesia sedang si anak berbahasa Inggris? Bisa jadi anak jadi minder dan tidak punya teman lagi. Atau, anak jadi kelewatan percaya diri hingga mendapat cemoohan orang.

                Lantas, salahkah anak terutama balita belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya? Tidak salah, karena memang akan sangat mudah mengajarkan bahasa asing ketika usia keemasannya. Namun, tentu saja ada rambu-rambu yang harus diperhatikan.

                Pastikan anak sudah fasih dan lancar bahasa ibunya. Jadi, jika sehari-hari dia bersama keluarga dan tetangga yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya, maka pastikan anak sudah lancar berbahasa Indonesia. Bisa juga bahasa daerah ya, jika memang bahasa daerah adalah bahasa ibunya. Rata-rata orang di desa masih senang menggunakan bahasa daerah. Lancar dan fasih bahasa ibu bisa dilihat dari bagaimana anak bisa berbicara mengungkapkan idenya dan dia paham perintah. Jika anak paham perintah namun tidak bisa mengutarakan apa yang dia mau, maka ini masih tergolong belum lancar.

                Lain lagi jika bahasa ibunya adalah bahasa Inggris atau bahasa asing yang lain, misalkan karena salah satu orang tuanya keturunan luar negeri. Atau anak sedang tinggal di luar negeri. Maka, mengajarkan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya memang diperbolehkan.

                Mengajarkan bahasa asing juga perlu bertahap. Usahakan tidak hanya sebatas menghafal saja, namun langsung praktik ke kehidupan sehari-hari. Ketika anak pegang jeruk, adalah saat yang tepat untuk berkata,”This is orange!” Lihat perkembangan anak, ketika usia 2-4 tahun belum fasih bahasa ibunya, maka jangan buru-buru mengajarkan bahasa asing kepadanya.


                Bahasa adalah alat komunikasi. Tak bisa bergaul jika tak menguasai bahasa. Kenalkan kepada anak bertahap dan dengan proses yang menyenangkan, tentunya.